Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Karena itu, IAIN Mataram secara keseluruhan juga tidak bisa mengisolasikan diri dari perubahan-perubahan paradigma, konsep, visi dan orientasi baru pengembangan pendidikan tinggi/Perguruan Tinggi nasional, dan bahkan internasional, seperti dirumuskan dalam Deklarasi UNESCO tentang Perguruan Tinggi pada 1998. Dalam konteks Indonesia, kajian ulang tentang Perguruan Tinggi semakin menemukan momentumnya dengan terjadinya krisis moneter, yang disusul krisis ekonomi, politik dan sosial. Semua krisis ini tidak hanya menimbulkan keprihatinan mendalam tentang meningkatnya drop-out rate di kalangan mahasiswa, tetapi juga tentang semakin merosotnya efektivitas dan efisiensi Perguruan Tinggi dalam menghasilkan mahasiswa dan lulusan yang memiliki competitive advantage, memiliki daya saing yang andal dan tangguh dalam zaman globalisasi yang penuh tantangan. Dengan demikian, juga harus dilihat dalam konteks perubahan-perubahan yang terjadi begitu cepat, baik pada tingkat konsep dan paradigma Perguruan Tinggi. Bahkan lebih jauh lagi, pengembangan IAIN Mataram sekaligus pula harus mempertimbangkan perubahan dan transisi sosial, ekonomi dan politik nasional dan global. Tulisan ini mencoba mengkaji perubahan-perubahan yang dapat ditempuh dalam perspektif paradigma baru Perguruan Tinggi yang telah dirumuskan baik pada tingkat pendidikan nasional maupun internasional. Tulisan ini juga berusaha menawarkan sejumlah peluang dan alternatif yang dapat ditempuh bukan hanya untuk survive, tetapi lebih-lebih lagi untuk mengembangkan dirinya menjadi Perguruan Tinggi yang dapat memberikan competitive advantage kepada mahasiswanya. Melihat dari konsep diatas bahwa kita dituntut untuk menjadi orang atau sarjna yang mampu bersaing di tengah maraknya isu global yang tak tau kapan akan berakhir.
Berangkat dari permasalahan yang terjadi terkait dengan persaingan tingkat pengetahuan yang terjadi di kampus IAIN Mataram membuat banyak kalangan mahasiswa kebinggungan dengan lapangan kerja yang dicapai, beberapa waktu yang lalu ( Tes CPNS 2009 ) banyak berkas lamaran yang di ajukan oleh alumni yang seharusnya siap bekerja DITOLAK oleh berbagai instansi yang ada diwilayah sendiri ( NTB ) dikarenakan tidak layak. Kasus yang terjadi bahkan banyak terjadi di alumni fakultas Tarbiyah. Padahal dari segi kemapanan dalam menjalin kerja sama fakultas Tarbiyah merupak fakultas tertua diantara fakultas yang ada di IAIN Mataram dibandingkan dengan fakultas lain seperti fakultas Syari’ah dan fakultas Dakwah dan Komunikasi, ini sebuah kenyataan yang tidak bisa disembunyikan. Namun permasalahan yang terjadi apakah mahasiswa yang salah/bodoh, dosen yang kurang profesional, atau lembaga IAIN Mataram yang kurang becus.
Padahal IAIN Mataram merupakan perguruan tinggi agama negeri yang ada di wilayah NTB , yang walaupun tidak sebesar UNRAM tapi semestinya peran IAIN Mataram dalam kemajuan pendidkan dalam konteks Islam sangat besar tapi itu hanya sebuah wacana yang tidak sesuai dengan fakta yang ada dilapangan. Apa yang dilakukan oleh pejabat kampus ini sampai-sampai tidak bisa berdiri tegak dengan baik. Padahal kalau kita melihat sejarah berdirinya IAIN Mataram harus sudah sepantasnya terbebas dari masalah yang terjadi dengan alumni malah sebaliknya.
Sehngga jangan salah kalau saya menulis dipojok atas tulisan ini, bahwa para pejabat di lingkungan IAIN Mataram bermain kucing-kucingan artinya dihadapan para mahasiswa baik baru maupu yang diwisudakan bahwa alumni IAIN siap diterima ditengah masyarakat, tapi malah..............berbeda. Banyak alumni IAIN Mataram yang gak mau memakai gelar yang diperoleh, belum lagi mahsiswa yang masih kulia tidak memilih pendirian sebagaimana fakta yang ada dilapangan ketika mereka ditanya tempat kuliah.
Semoga dengan dengan pencerahan ini kita bisa bangkit dari pembodohan dan terpinggirkan. Mari kita bangun dari tidur kita yang berkepanjangan, demi kesejateraan kita bersama.
0 komentar:
Posting Komentar