Berbicara tentang pembangunan, sering muncul pertanyaan, untuk siapakah pembangunan dilakukan? Apakah pembangunan untuk manusia, atau manusia untuk pembangunan? Apakah pembangunan hanya untuk sekelompok tertentu saja? Yang pasti jawabannya adalah Pembangunan untuk Semua” (Development for All).
Seperti yang dikatakan oleh Presiden susilo bambang yudiyono dalam sebuah pidatonya, bahwa dalam membangun mpembangunan dalam suatu wilayah Paradigma “Pembangunan untuk Semua”, dalam konteks peran perguruan tinggi dalam membangun masyarakat NTB, menurut pendapat saya pribadi dapat dilakukan dengan menerapkan enam strategi dasar pembangunan.
1. Strategi Pembangunan Yang Inklusif
Strategi pembangunan yang inklusif, yang menjamin pemerataan dan keadilan, yang mampu menghormati dan menjaga keberagaman rakyat Indonesia umumnya dan masyarakat NTB khususnya. Pembangunan untuk mencapai cita-cita masyarakat NTB yang maju dan makmur tidak boleh diartikan secara sempit, dengan sekedar mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi, apalagi bila hanya dilakukan dan dinikmati oleh sekelompok kecil pelaku ekonomi, atau oleh sedikit daerah tertentu saja.
Pemerintah pusat dan Pemerintah daerah perlu terus-menerus memperbaharui pemahaman dan kesepakatan bersama dalam membangun masyarakat NTB. Dalam konteks ini, proses penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah baik di tingkat Nasional maupun di masing-masing Daerah harus diserasikan. Dengan demikian, strategi dan pelaksanaan pembangunan NTB yang inklusif dapat segera dilaksanakan secara efektif dan saling menunjang.
2. Berdimensi Kewilayahan
dalam kerangka “Pembangunan untuk Semua”, maka pembangunan NTB haruslah berdimensi kewilayahan. Setiap provinsi, setiap kabupaten/kota, adalah pusat-pusat pertumbuhan negeri, yang harus bisa memanfaatkan segala potensi daerahnya masing-masing, baik sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun letak geostrategisnya.
Pembangunan berdimensi kewilayahan juga berarti pemerintah terus mendorong setiap daerah untuk mengembangkan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif masing-masing. Namun demikian, keseimbangan antar wilayah harus pula tetap dijaga sehingga tidak terjadi ketimpangan antar wilayah. Tak boleh ada satu daerah pun yang tertinggal terlalu jauh dari daerah lainya. Prinsipnya adalah, jika daerah-daerah maju maka negarapun akan maju.
3. Menciptakan Integrasi Ekonomi Nasional NTB Dalam Persaingan Era Globalisasi.
menciptakan integrasi ekonomi nasional dalam era globalisasi. Pembangunan nasional yang sedang kita jalankan ini tidaklah berjalan di ruang vakum. Bahkan sejak zaman kolonial, ekonomi Indonesia telah berkaitan dengan ekonomi dunia. Bedanya, pada saat itu, konteksnya adalah eksploitasi ekonomi dan sumber daya Indonesia untuk kepentingan ekonomi kolonial. Sekarang, sebagai bangsa merdeka, keterkaitan kita dengan ekonomi dunia didasarkan pada kepentingan nasional kita untuk memanfaatkannya demi sebesar-besar kemakmuran rakyat Indonesia. Kita harus menangkap peluang yang muncul dalam era globalisasi, sembari menghindari efek negatifnya. Kita tak perlu terus-menerus mengeluh tentang globalisasi yang melanda dunia, lebih baik kita mempersiapkan diri menghadapi dan memenangkannya. Kita harus menjadi bangsa pemenang di era globalisasi ini, dan bukannya bangsa yang kalah. Kita perlu mengangkat topi kepada masyarakat Bali yang telah memberi contoh bagaimana berintegrasi dalam masyarakat dunia, mengambil manfaat sebesar-besarnya, tanpa kehilangan jati dirinya. Masyarakat Bali semakin maju dan sejahtera dengan mengembangkan pariwisata bernuansa alam dan budaya, dengan tata nilai tri hita karana, yang tetap menjadi dasar kehidupan masyarakat Bali. Tentu saja mempertahankan hal ini tidaklah mudah dan penuh tantangan. Tetapi jika masyarakat Bali bisa melakukannya, masyarakat daerah-daerah lainpun harus bisa. Semuanya tetap dalam kerangka NKRI.
4. Keserasian Dan Keseimbangan Antar Pertumbuhan Dan Pemerataan
keserasian dan keseimbangan antar pertumbuhan dan pemerataan, atau Growth with Equity. Strategi demikian juga merupakan koreksi atas kebijakan pembangunan terdahulu, yang dikenal dengan trickle down effect. Strategi trickle down effect mengasumsikan perlunya memprioritaskan pertumbuhan ekonomi terlebih dahulu, baru kemudian dilakukan pemerataan. Dalam kenyataannya di banyak negara, termasuk di Indonesia, teori ini gagal menciptakan kemakmuran untuk semua.
Karena itulah, untuk mewujudkan pembangunan dan pemerataan secara bersamaan, sejak awal saya sudah menetapkan triple track strategy, yaitu strategi yang pro-growth, pro-job, dan pro-poor dalam pembangunan ekonomi nasional. Dengan triple track strategy ini, pembangunan ekonomi nasional dilakukan dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, melalui peningkatan investasi dan perdagangan dalam dan luar negeri. Pembangunan ekonomi juga ditujukan untuk menciptakan lapangan kerja dengan memutar sektor riil, dan bersamaan dengan itu, pembangunan ekonomi di fokuskan untuk mengurangi kemiskinan melalui kebijakan revitalisasi pertanian dan pedesaan, serta program-program pro-rakyat.
5. Pembangunan Yang Menitik-Beratkan Pada Kemajuan Kualitas Manusianya.
Esensi “Pembangunan untuk Semua”, yang berkeadilan dan merata, adalah pada strategi keenam, yaitu pembangunan yang menitik-beratkan pada kemajuan kualitas manusianya. Manusia Indonesia bukan sekedar obyek pembangunan, melainkan justru subyek pembangunan. Sumber daya manusia menjadi aktor dan sekaligus fokus tujuan pembangunan, sehingga dapat dibangun kualitas kehidupan manusia Indonesia yang makin baik. Untuk itu, “Pembangunan untuk Semua” selalu memberikan prioritas yang sangat tinggi pada aspek pendidikan, kesehatan, dan pendapatan serta lingkungan kehidupan yang lebih berkualitas. Yang dimaksud dengan lingkungan, di samping lingkungan hidup yang sehat dan lestari, juga adalah lingkungan sosial, politik dan keamanan yang tertib, aman, nyaman dan demokratis.
0 komentar:
Posting Komentar